30 January 2013

KaruniaNYA

KaruniaNYA

Dalam diam ku terpaku,, 
Ku terkejut akan sosok nampak dihadapanku,, 
Memberiku harapan dengan kasih sayang,, 
Kasih sayang yang aku kira takkanlah mungkin tersampaikan 
seandainya aku menginginkannya.,
Aku tersentak ketika dia menghampiriku,, 
Dia bisikan kata sayang yang tak terbayangkan olehku sebelumnya,, 
Mulut tak sanggup berkata-kata,, 
Kurasa hatipun hanya mampu memanjatkan syukur tak terhingga... 
* dengan tangannya yang lembut dia sentuh halus pipi ini,, 
* dengan ketulusan matanya tak henti-henti menatapku,, 
* dengan senyumannya yang penuh ketenangan seakan dia nyaman didekatku.. 
Terima kasih ya ALLAH telah menurunkan jiwa yang selama ini aku cari..Ku kan selalu 
menjaganya dan menempatkannya di tempat yang terindah dalam hatiku... 


Read More..

11 September 2012

Dasar Teori EKG 1 dan Interprestasinya

Dasar Teori EKG 1 dan Interprestasinya


Definisi 

EKG (Elektrokardiografi) adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung. Elektokardiogram adalah suatu grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung

Cara Penggunaan

Cara Menggunakan EKG untuk merekam listrik jantung :

Persiapan

A. Alat

  • Mesin EKG, yang dilengkapi :
  • kabel untuk sumber listrik
  • kabel untuk bumi (ground)
  • Kabel elektroda ekstremitas dan dada
  • Plat elektroda ekstremitas beserta karet pengikat
  • Balon penghisap elektroda dada
  • Jelly
  • Kertas tissue
  • Kapas Alkohol
  • Kertas EKG
  • Spidol

B. Pasien

Penjelasan (informed consent)
  • Tujuan pemeriksaan
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan saat perekaman


Dinding dada harus terbuka dan tidak ada perhiasan logam yang melekat.
Pasien diminta tenang atau tidak bergerak saat perekaman EKG


Cara memasang EKG

  1. Pasang semua komponen/kabel-kabel pada mesin EKG
  2. Nyalakan mesin EKG
  3. Baringkan pasien dengan tenang di tempat tidur yang luas. Tangan dan kaki tidak saling bersentuhan
  4. Bersihkan dada, kedua pergelangan kaki dan tangan dengan kapas alcohol (kalau perlu dada dan pergelangan kaki dicukur)
  5. Keempat electrode ektremitas diberi jelly.
  6. Pasang keempat elektrode ektremitas tersebut pada kedua pergelangan tangan dan kaki. Untuk tangan kanan biasanya berwarna merah, tangan kiri berwarna kuning, kaki kiri berwarna hijau dan kaki kanan berwarna hitam.
  7. Dada diberi jelly sesuai dengan lokasi elektrode V1 s/d V6.
  • V1 di garis parasternal kanan sejajar dengan ICS 4 berwarna merah
  • V2 di garis parasternal kiri sejajar dengan ICS 4 berwarna kuning
  • V3 di antara V2 dan V4, berwarna hijau
  • V4 di garis mid klavikula kiri sejajar ICS 5, berwarna coklat
  • V5 di garis aksila anterior kiri sejajar ICS 5, berwarna hitam
  • V6 di garis mid aksila kiri sejajar ICS 5, berwarna ungu


http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/66/Precordial_Leads_2.svg/325px-Precordial_Leads_2.svg.png 


  1. Pasang elektrode dada dengan menekan karet penghisap.
  2. Buat kalibrasi
  3. Rekam setiap lead 3-4 beat (gelombang), kalau perlu lead II panjang (minimal 6 beat)
  4. Kalau perlu buat kalibrasi setelah selesai perekaman
  5. Semua electrode dilepas
  6. Jelly dibersihkan dari tubuh pasien
  7. Beritahu pasien bahwa perekaman sudah selesai
  8. Matikan mesin EKG
  9. Tulis pada hasil perekaman : nama, umur, jenis kelamin, jam, tanggal, bulan dan tahun pembuatan, nama masing-masing lead serta nama orang yang merekam
  10. Bersihkan dan rapikan alat
Perhatian :
  • Sebelum bekerja periksa kecepatan mesin 25 mm/detik dan voltase 10 mm. Jika kertas tidak cukup kaliberasi voltase diperkecil menjadi ½ kali atau 5 mm. Jika gambaran EKG kecil, kaliberasi voltase diperbesar menjadi 2 kali atau 20 mm.
  • Hindari gangguan listrik dan mekanik saat perekaman
  • Saat merekam, operator harus menghadap pasien
  • Lead EKG
    Terdapat 2 jenis lead :
A. Lead bipolar : merekam perbedaan potensial dari 2 elektrode
  • Lead I : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan tangan kiri (LA) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead II : merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)
  • Lead III : merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF) yang mana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+)
B. Lead unipolar : merekam beda potensial lebih dari 2 elektode
    Dibagi 2 : lead unipolar ekstremitas dan lead unipolar prekordial
    Lead unipolar ekstremitas
  • Lead aVR : merekam beda potensial pada tangan kanan (RA) dengan tangan kiri dan kaki kiri yang mana tangan kanan bermuatan (+)
  • Lead aVL : merekam beda potensial pada tangan kiri (LA) dengan tangan kanan dan kaki kiri yang mana tangan kiri bermuatan (+)
  • Lead aVF : merekam beda potensial pada kaki kiri (LF) dengan tangan kanan dan tangan kiri yang mana kaki kiri bermuatan (+)
    Lead unipolar prekordial : merekam beda potensial lead di dada dengan ketiga lead ekstremitas. Yaitu V1 s/d V6
    Kertas EKG
    Kertas EKG merupakan kertas grafik yang terdiri dari garis horisontal dan vertikal berbentuk bujur sangkar dengan jarak 1 mm. Garis yang lebih tebal (kotak besar) terdapat pada setiap 5 mm. Garis horizontal menggambarkan waktu (detik) yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,04 detik, 5 mm (1 kotak besar) = 0,20 detik. Garis vertical menggambarkan voltase yang mana 1 mm (1 kotak kecil) = 0,1 mV.
    Kurva EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi di atrium dan ventrikel. Proses listrik terdiri dari :
  • Depolarisasi atrium (tampak dari gelombang P)
  • Repolarisasi atrium (tidak tampak di EKG karena bersamaan dengan depolarisasi ventrikel)
  • Depolarisasi ventrikel (tampak dari kompleks QRS)
  • Repolarisasi ventrikel (tampak dari segmen ST)
Kurva EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T kadang-kadang tampak gelombang U.

EKG 12 Lead
Lead I, aVL, V5, V6 menunjukkan bagian lateral jantung
Lead II, III, aVF menunjukkan bagian inferior jantung
Lead V1 s/d V4 menunjukkan bagian anterior jantung
Lead aVR hanya sebagai petunjuk apakah pemasangan EKG sudah benar


Aksis jantung



axis ekg 


 
Sumbu listrik jantung atau aksis jantung dapat diketahui dari bidang frontal dan horisontal. Bidang frontal diketahui dengan melihat lead I dan aVF sedangkan bidang horisontal dengan melihat lead-lead prekordial terutama V3 dan V4. Normal aksis jantung frontal berkisar -30 s/d +110 derajat.Deviasi aksis ke kiri antara -30 s/d -90 derajat, deviasi ke kanan antara +110 s/d -180 derajat.

Sekilas mengenai EKG Normal

 
clip_image002 



clip_image002 


Gelombang P
Nilai normal :
Lebar ≤ 0,12 detik
Tinggi ≤ 0,3 mV
Selalu (+) di lead II
Selau (-) di lead aVR

Interval PR
Diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar 0,12-0,20 detik.

Gelombang QRS (kompleks QRS)
Nilai normal : lebar 0,04 - 0,12 detik, tinggi tergantung lead.
Gelombang Q : defleksi negatif pertama gelombang QRS
Nilai normal : lebar < 0,04 detik, dalam < 1/3 gelombang R. Jika dalamnya > 1/3 tinggi gelombang R berarti Q patologis.
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS. Umumnya di Lead aVR, V1 dan V2, gelombang S terlihat lebih dalam, dilead V4, V5 dan V6 makin menghilang atau berkurang dalamnya.

Gelombang T
Merupakan gambaran proses repolirisasi Ventrikel. Umumnya gelombang T positif, di hampir semua lead kecuali di aVR

Gelombang U
Adalah defleksi positif setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya. Penyebabnya timbulnya gelombang U masih belum diketahui, namun diduga timbul akibat repolarisasi lambat sistem konduksi Interventrikuler.

Interval PR
Interval PR diukur dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. Nilai normal berkisar antara 0,12 – 0,20 detik ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi Atrium dan jalannya implus melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi Ventrikuler


Segmen ST
Segmen ST diukur dari akhir gelombang QRS sampai permulaan gelombang T. segmen ini normalnya isoelektris, tetapi pada lead prekkordial dapat berpariasi dari – 0,5 sampai +2mm. segmen ST yang naik diatas garis isoelektris disebut ST eleveasi dan yang turun dibawah garis isoelektris disebut ST depresi
Cara menilai EKG
  • Tentukan apakah gambaran EKG layak dibaca atau tidak
  • Tentukan irama jantung ( “Rhytm”)
  • Tentukan frekwensi (“Heart rate”)
  • Tentukan sumbu jantung (“Axis”)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda hipertrofi (atrium / ventrikel)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda kelainan miokard (iskemia/injuri/infark)
  • Tentukan ada tidaknya tanda tanda gangguan lain (efek obat obatan, gangguan keseimbangan elektrolit, gangguan fungsi pacu jantung pada pasien yang terpasang pacu jantung) 

1. MENENTUKAN FREKWENSI JANTUNG

Cara menentukan frekwensi melalui gambaran EKG dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu :
a.  300 dibagi jumlah kotak besar antara R – R’
b. 1500 dibagi jumlah kotak kecil antara R – R’
c. Ambil EKG strip sepanjang 6 detik, hitung jumlah gelombang QRS dalam 6 detik tsb kemudian dikalikan 10 atau ambil dalam 12 detik, kalikan 5

2. MENENTUKAN IRAMA JANTUNG

Dalam menentukan irama jantung urutan yang harus ditentukan adalah sebagai berikut
- Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak
- Tentukan berapa frekwensi jantung (HR)
- Tentukan gelombang P ada/tidak dan normal/tidak
- Tentukan interval PR normal atau tidak
- Tentukan gelombang QRS normal atau tidak
Irama EKG yang normal implus (sumber listrik) berasal dari Nodus SA, maka irmanya disebut dengan Irama Sinus (“Sinus Rhytm”)
Kriteria Irama Sinus adalah :
- Iramanya  teratur
- frekwensi jantung (HR) 60 – 100 x/menit
-Gelombang P normal, setiap gelombang P selalu diikuti gel QRS, T
- Gelombang QRS normal (0,06 – <0 detik="" span="">
- PR interval normal (0,12-0,20 detik)
Irama yang tidak mempunyai criteria tersebut di atas kemungkinan suatu kelainan


Read More..

30 April 2011

KGD


Tujuan posisi miring mantap :
  1. Mencegah terjadinya aspirasi
  2. Memberikan posisi yang stabil terhadap korban agar kita bisa menolong korban lainnya (jika korban berjumlah lebih dari satu)
Prosedur memberikan posisi miring mantap :
  1. Korban tidur terlentang pada posisi supine, penolong berlutut di sisi kanan korban
  2. Tangan kanan korban diluruskan di sisi kepala korban.
  3. Tangan kiri korban ditekuk menyilang dada hingga posisi telapak tangan berada dibahu kanan korban.
  4. Lutut kaki kiri korban ditekuk ke kanan
  5. Posisi tangan kiri penolong di bahu kiri korban, tangan kanan penolong di lipatan lutut kiri korban


     6.  Tarik korban dengan kedua tangan bersamaan ke kanan hingga korban miring kanan
          (90 derajat) tahan badan korban dengan kedua kaki penolong agar korban tidak
          terguling.
     7.  Secara pelan-pelan miringkan lagi tubuh korban (disangga oleh kedua paha penolong)
          hingga korban berada pada posisi miring.
     8.  Cek kembali nadi karotis dan pernafasan korban, jika masih ada baru korban bisa
          ditinggalkan.
     9.  Evaluasi kembali nadi dan pernafasan korban hingga petugas ambulans datang.




Anatomi Fisiologi Airway Breathing

Anatomi Dan Fisiologi Airway Dan Breathing. Pengelolaan airway dan breathing berfungsi untuk mempertahankan oksigenasi otak dan bagian tubuh lainnya, merupakan  hal yang penting dalam penanganan penderita, jika tidak maka penderita akan meninggal dengan cepat.
Sistem respirasi memiliki dua fungsi utama, yaitu :
  1. Berfungsi menyediakan oksigen bagi sel darah merah yang kemudian akan membawa oksigen tersebut ke seluruh tubuh. Dalam proses metabolisme aerobik, sel tubuh menggunakan oksigen sebagai bahan bakar dan akan memproduksi karbon dioksida sebagai hasil sampingan.
  2. Pelepasan karbon dioksida dari tubuh merupakan tugas kedua dari sistem respirasi. Ketidakmampuan sistem respiratorik dalam menyediakan oksigen bagi sel atau melepaskan karbondioksida, akan menimbulkan kematian.
Kematian oleh karena masalah airway pada trauma disebabkan oleh :
  • Kegagalan dalam mengenal airway yang tersumbat sebagian atau ketidakmampuan penderita untuk melakukan ventilasi dengan cukup. Gabungan obstruksi jalan nafas dengan ketidak cukupan ventilasi dapat menyebabkan hipoksia sehingga akan mengancam nyawa. Keadaan seperti ini mungkin terlupakan bila ditemukan perlukaan yang nampaknya lebih serius.
  • Adanya kesulitan teknis dalam menjaga jalan nafas dan teknis membantu ventilasi. Intubasi yang salah akan memperburuk ventilasi dan dengan cepat dapat mengakibatkan kematian bila tidak dikenali secara dini.
  • Aspirasi isi gaster.

 
Anatomi Sistem Pernafasan


Sistem pernafasan terdiri dari jalan nafas atas, jalan nafas bawah dan paru. Setiap bagian sistem ini memainkan peran yang penting dalam proses pernafasan, yaitu dimana oksigen dapat masuk ke aliran darah dan karbon dioksida dilepaskan.

Jalan Nafas Atas

Jalan nafas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan udara atmosfer masuk melalui hidung, mulut, dan bronkus hingga ke alveoli. Jalan nafas atas terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, laring, trakea. Udara yang masuk dari rongga hidung akan mengalami proses penghangatan, pelembaban dan penyaringan dari segala kotoran. Setelah rongga hidung dapat dijumpai daerah faring, mulai dari bagian belakang palatum mole sampai ujung bagian atas esofagus.
Faring terdiri atas tiga bagian, yaitu:
  1. Naso faring  (bagian atas) di belakang hidung.
  2. Orofaring (bagian tengah) dapat dilihat saat membuka mulut.
  3. Hipofaring (bagian akhir), sebelum menjadi laring.
Di bawah faring terdapat esofagus dan laring yang merupakan permulaan jalan nafas bawah. Di dalam laring terdapat pita suara dan otot-otot yang dapat membuatnya bekerja, serta terdiri dari tulang rawan yang kuat. Pita suara merupakan suatu lipatan jaringan yang mendekat di garis tengah.
Tepat diatas laring, terdapat struktur yang berbentuk daun yang disebut epiglotis. Epiglotis berfungsi sebagai pintu gerbang yang akan mengantarkan udara yang menuju trakea, sedangkan benda padat dan cair akan dihantarkan menuju esofagus. Dibawah laring, jalan nafas akan menjadi trakea yang terdiri dari cincin-cincin tulang rawan.

Jalan Nafas Bagian Bawah

Terdiri dari bronkus dan percabangannya serta paru-paru. Pada saat inspirasi udara masuk melalui jalan nafas atas menuju jalan nafas bawah sebelum mencapai paru-paru. Trakea terbagi menjadi dua cabang, yaitu bronkus utama kanan dan bronkus utama kiri. Masing-masing bronkus utama terbagi lagi menjadi beberapa bronkus primer dan kemudian terbagi lagi menjadi bronkiolus.

Fisiologi Sistem Pernafasan

Ketika udara atmosfer mencapai alveoli, oksigen akan bergerak dari alveoli melintasi membran alveolar kapiler dan menuju sel darah merah. Sistem sirkulasi kemudian akan membawa oksigen yang telah berikatan dengan sel darah merah menuju jaringan tubuh, dimana oksigen akan digunakan sebagai bahan bakar dalam proses metabolisme.
Pertukaran oksigen dan karbon dioksida pada membran alveolar kapiler dikenal dengan istilah difusi pulmonal. Setelah proses pertukaran gas selesai (kadar karbondioksida yang rendah) akan menuju sisi kiri jantung, dan akan dipompakan ke seluruh sel dalam tubuh.
Saat mencapai jaringan, sel darah merah yang teroksigenasi ini akan melepaskan ikatannya dengan oksigen dan oksigen tersebut digunakan untuk bahan bakar metabolisme. Juga karbondioksida akan masuk sel darah merah. Sel darah merah yang rendah oksigen dan tinggi karbondioksida akan menuju sisi kanan jantung untuk kemudian dipompakan ke paru-paru.
Hal yang sangat penting dalam proses ini adalah bahwa alveoli harus terus menerus mengalami pengisian dengan udara segar yang mengandung oksigen dalam jumlah yang cukup.
Proses pernafasan sendiri ada dua yaitu inspirasi (menghirup) dan ekspirasi (mengeluarkan nafas).
Inspirasi dilakukan oleh dua jenis otot:
  1. Otot interkostal, antara iga-iga. Pernafasan ini dikenal sebagai pernafasan torakal. Otot dipersarafi oleh nervus interkostalis (torakall 1 – 12)
  2. Otot diafragma, bila berkontraksi diafragma akan menurun. Hal ini dikenal sebagai pernafasan abdominal, dan persarafan melalui nerfus frenikus yang berasal dari cervikal 3-4-5.




Pusat pernafasan ada di batang otak, yang mendapat rangsangan melalui baro reseptor  yang terdapat di aorta dan arteri karotis. Melalui nervus frenikus dan nervus interkostalis akan menjadi pernafasan abdomino-torakal (pada bayi disebut torako-abdominal).
Dalam keadaan normal volume udara yang kita hirup saat bernafas  dikenal sebagai tidal volume. Bila membutuhkan oksigen lebih banyak maka akan dilakukan penambahan volume pernafasan melalui pemakaian otot-otot pernafasan tambahan.
Jika tidal volume adalah 7 cc/kg Berat Badan, maka pada penderita dengan berat 70 kg, tidal volumenya 500 cc. Dengan frekuensi nafas 14 kali / menit, maka volume permenit 500 × 14 = 7000 cc / menit.
Bila pernafasan lebih dari 40 kali / menit, maka penderita harus dianggap mengalami hipoventilasi (nafas dangkal). Baik frekuensi nafas maupun kedalaman nafas harus dipertimbangkan saat mengevaluasi pernafasan. Kesalahan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa penderita dengan frekuensi nafas yang cepat berarti mengalami hiperventilasi.

Biomekanika Trauma

Biomekanika trauma adalah ilmu yang mempelajari kejadian cedera pada suatu jenis kekerasan atau kecelakaan tertentu. Misalnya orang jatuh dari sepeda motor akan menimbulkan cedera yang berbeda dibandingkan dengan orang yang ditabrak mobil.
Biomekanika trauma penting dipelajari karena akan membantu dalam :
  • Akibat yang ditimbulkan trauma
  • Waspada terhadap jenis perlukaan yang diakibatkan trauma.
Sedangkan jenis perlukaan bisa dibagi menjadi perlukaan yang tampak misalnya luka dibagian luar, dan perlukaan yang tidak tampak / tidak bisa dilihat secara langsung misalnya perlukaan organ bagian dalam.
Organ dalam tubuh dapat dibagi menjadi:
Organ tidak berongga (padat , solid) misalnya: hepar, limpa, paru, otak.
Organ berongga, misalnya usus.
Perlukaan organ dalam terjadi melalui mekanisme cedera:




1. Cedera langsung

Misalnya kepala dipukul martil. Kulit kepala bisa robek dan menimbulkan perdarahan luar, tulang kepala dapat retak atau patah, atau dapat menimbulkan perdarahan di otak.

2. Cedera akibat gaya perlambatan (deselerasi)

Misalnya seorang pengendara sepeda motor menabrak pohon. Setelah badan berhenti di pohon, maka organ dalam akan tetap bergerak maju dalam rongga masing-masing. Jantung akan terlepas dari ikatannya (aorta) sehingga terjadi ruptur aorta. Usus akan robek terlepas darimesenterium.

3. Cedera akibat dari gaya percepatan (akselerasi)

Misalnya pengendara mobil ditabrak dari belakang. Tabrakan dari belakang bisa terjadi pada kendaraan yang sedang berhenti atau kendaraan yang kecepatannya lebih lambat. Cedera yang sering terjadi biasanya karena adanya daya pecut (whiplash injuri) dan cedera yang harus diwaspadai adalah cedera dibawah tulang leher, apalagi jika kendaraan tersebut tidak memakai headrest.


4. Cedera kompresi (efek kantong kertas)

Ibarat sebuah kantong kertas yang ditiup, kemudian ditutup kemudian dipukul hingga meledak. Hal ini juga bisa terjadi pada organ berongga yang dapat pecah akibat tekanan.


Read More..

29 April 2011

CARA PEMASANGAN INFUS

CARA PEMASANGAN INFUS


Tehnik Pemasangan Infus

A. TUJUAN PEMBELAJARAN :
•    Memahami anatomi vena yang terkait dg pemasangan infus
•    Memahami pemberian cairan yang baik dan benar
•    Memahami alat-alat pemasangan infus
•    Memahami tehnik pemasangan 

B. TUJUAN TERAPI INTRA VENA :
•    Mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
•    Sebagai akses pemberian obat, kemoterapi dan tranfusi darah serta produk darah
•    Memberikan parenteral nutriens
•    Pra dan pasca bedah sesuai program.

C. RESIKO PEMASANGAN INFUS :
•    Perdarahan
•    Infiltrasi (dimana cairan infus masuk kedalam jaringan disekitar pembuluh darah)








•         Infeksi
•         Overdose (karena respon obat i.v. lebih cepat)
•         Inkompabilitas antara obat dengan cairan infus ketika dicampur

D. PEDOMAN PEMILIHAN VENA :
  1. Gunakan vena distal terlebih dahulu
  2. Gunakan lengan pasien yang tidak dominan jika mungkin
  3. Pilih vena diatas area fleksi
  4. Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat kedalam kateter
  5. Palpasi vena untuk menentukan kondisinya. Selalu pilih vena yang lunak, penuh.
  6. Pastikan lokasi yang dipilih tidak mengganggu aktifitas pasien
  7. Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur yang direncanakan.
E. PERBEDAAN VENA & ARTERI : 




F. HINDARI TIPE-TIPE VENA :
  1. Vena yang telah digunakan sebelumnya
  2. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau flebitis
  3. Vena yang keras dan sklerotik
  4. Vena kaki, karena sirkulasi lambat dan komplikasi sering terjadi
  5. Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke
  6. Vena yang dekat area terinfeksi
  7. Vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium

G. ANATOMI TEMPAT PEMASANGAN INFUS : 





LANGKAH PERSIAPAN PEMASANGAN INFUS


PERSIAPAN
Petugas Kesehatan 
-  Cuci tangan : untuk mencegah infeksi nosokomial berikut contoh cuci tangan yang benar 




-  Memakai APD (Alat Pelindung Diri)
  • Sarung tangan
  • Masker
  • Kacamata google (untuk pasien khusus) untuk melindungi mata petugas





Pasien 
Masalah pada pasien :
-  Takut, cemas
-  Tegang - langkah

Langkah yang dapat mendorong pasien untuk bekerjasama :
  1. Tunjukan sikap percaya diri
  2. Beri salam pada pasien dengan menyebut namanya
  3. Perkenalkan diri anda
  4. Validasi identifikasi pasien tersebut
  5. Jelaskan prosedur dengan cara yang mudah dimengerti oleh pasien/keluarga
  6. Libatkan orangtua (terutama pada anak dan bayi)

Alat dan lingkungan
a.  Alat-alat untuk pemasangan infus secara umum yaitu :

  • Cairan infus
          Hal-hal yg wajib diketahui Petugas : 


  • Infus set (Makro/Mikro)
  • Kateter infus (sediakan 3 ukuran)
          Hal-hal yg wajib diketahui Petugas : 


   



  • Alkohol swab
  • Balutan infus, plester
  • Alas
  • Tali pembendung (Torniquet)
  • Tiang infus
  • Bengkok/tempat sampah
  • Troley
  • Spalk (bila perlu)
b. Lingkungan
  • Nyaman
  • Pasang skerm (untuk privasi pasien)
  • Ruang tindakan (untuk pasien tertentu, misalnya anak-anak)


PROSEDUR PEMASANGAN INFUS

  • Beritahu pasien
  • Siapkan alat
  • Petugas cuci tangan, pakai APD
  • Pasang skerm/gorden
  • Pasang alas
  • Pasang infus set ke botol infus sbb: 

 















  • Pilih vena yang baik
  • Pasang torniquet 4-6 inci diatas tempat penusukan
  • Desinfeksi kulit tempat penusukan dengan gerakan melingkari dari pusat keluar  dengan alkohol swab
  • Pegang tangan/pergelangan tangan pasien dengan tangan kiri sambil Fiksasi vena, letakkan ibu jari anda diatas vena untuk mencegah pergerakan dan untuk meregangkan kulit melawan arah penusukan .
  • Tusuk vena dengan bevel jarum menghadap keatas (dengan sudut 30-40 derajat), tusukan searah aliran vena ½ kateter (terlihat darah akan mengisi tabung kateter vena).
  • Tangan kanan menahan/memegang jarum infus, tangan kiri mendorong kateter sampai kateter masuk semua.
  • Cabut jarum infus dan hubungkan kateter dengan infus set yang sudah dipersiapkan.
  • Lepaskan torniquet
  • Alirkan cairan infus, cek lancar/tidak, adakah tanda-tanda bengkak
  • Fiksasi, atur tetesan sesuai instruksi dan atur tinggi botol infus ± 85 cm dari jantung pasien.
  • Beri label, rapihkan alat,

 Dokumentasi dan Evaluasi
  • Tanggal dan waktu penggantian selang infus, tuliskan semua selang tambahan
  • Tanggal, waktu dan isi cairan infus
  • Kecepatan aliran infus, termasuk perubahan kecepatan berikutnya
  • Peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur aliran
  • Pengkajian tempat penusukan infus secara teratur
  • Komplikasi dan tindakan yang dilakukan untuk mem-perbaiki masalah
  • Waktu saat terapi infus dihentikan dan apakah kateter utuh saat dilepas
  • Observasi kondisi kateter 2 kali tiap shift (untuk dewasa) dan setiap jam untuk anak-anak

Read More..
Next Prev home

Popular Posts