29 April 2011

CARA PEMASANGAN INFUS

CARA PEMASANGAN INFUS


Tehnik Pemasangan Infus

A. TUJUAN PEMBELAJARAN :
•    Memahami anatomi vena yang terkait dg pemasangan infus
•    Memahami pemberian cairan yang baik dan benar
•    Memahami alat-alat pemasangan infus
•    Memahami tehnik pemasangan 

B. TUJUAN TERAPI INTRA VENA :
•    Mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
•    Sebagai akses pemberian obat, kemoterapi dan tranfusi darah serta produk darah
•    Memberikan parenteral nutriens
•    Pra dan pasca bedah sesuai program.

C. RESIKO PEMASANGAN INFUS :
•    Perdarahan
•    Infiltrasi (dimana cairan infus masuk kedalam jaringan disekitar pembuluh darah)








•         Infeksi
•         Overdose (karena respon obat i.v. lebih cepat)
•         Inkompabilitas antara obat dengan cairan infus ketika dicampur

D. PEDOMAN PEMILIHAN VENA :
  1. Gunakan vena distal terlebih dahulu
  2. Gunakan lengan pasien yang tidak dominan jika mungkin
  3. Pilih vena diatas area fleksi
  4. Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat kedalam kateter
  5. Palpasi vena untuk menentukan kondisinya. Selalu pilih vena yang lunak, penuh.
  6. Pastikan lokasi yang dipilih tidak mengganggu aktifitas pasien
  7. Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi pembedahan atau prosedur yang direncanakan.
E. PERBEDAAN VENA & ARTERI : 




F. HINDARI TIPE-TIPE VENA :
  1. Vena yang telah digunakan sebelumnya
  2. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau flebitis
  3. Vena yang keras dan sklerotik
  4. Vena kaki, karena sirkulasi lambat dan komplikasi sering terjadi
  5. Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke
  6. Vena yang dekat area terinfeksi
  7. Vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium

G. ANATOMI TEMPAT PEMASANGAN INFUS : 





LANGKAH PERSIAPAN PEMASANGAN INFUS


PERSIAPAN
Petugas Kesehatan 
-  Cuci tangan : untuk mencegah infeksi nosokomial berikut contoh cuci tangan yang benar 




-  Memakai APD (Alat Pelindung Diri)
  • Sarung tangan
  • Masker
  • Kacamata google (untuk pasien khusus) untuk melindungi mata petugas





Pasien 
Masalah pada pasien :
-  Takut, cemas
-  Tegang - langkah

Langkah yang dapat mendorong pasien untuk bekerjasama :
  1. Tunjukan sikap percaya diri
  2. Beri salam pada pasien dengan menyebut namanya
  3. Perkenalkan diri anda
  4. Validasi identifikasi pasien tersebut
  5. Jelaskan prosedur dengan cara yang mudah dimengerti oleh pasien/keluarga
  6. Libatkan orangtua (terutama pada anak dan bayi)

Alat dan lingkungan
a.  Alat-alat untuk pemasangan infus secara umum yaitu :

  • Cairan infus
          Hal-hal yg wajib diketahui Petugas : 


  • Infus set (Makro/Mikro)
  • Kateter infus (sediakan 3 ukuran)
          Hal-hal yg wajib diketahui Petugas : 


   



  • Alkohol swab
  • Balutan infus, plester
  • Alas
  • Tali pembendung (Torniquet)
  • Tiang infus
  • Bengkok/tempat sampah
  • Troley
  • Spalk (bila perlu)
b. Lingkungan
  • Nyaman
  • Pasang skerm (untuk privasi pasien)
  • Ruang tindakan (untuk pasien tertentu, misalnya anak-anak)


PROSEDUR PEMASANGAN INFUS

  • Beritahu pasien
  • Siapkan alat
  • Petugas cuci tangan, pakai APD
  • Pasang skerm/gorden
  • Pasang alas
  • Pasang infus set ke botol infus sbb: 

 















  • Pilih vena yang baik
  • Pasang torniquet 4-6 inci diatas tempat penusukan
  • Desinfeksi kulit tempat penusukan dengan gerakan melingkari dari pusat keluar  dengan alkohol swab
  • Pegang tangan/pergelangan tangan pasien dengan tangan kiri sambil Fiksasi vena, letakkan ibu jari anda diatas vena untuk mencegah pergerakan dan untuk meregangkan kulit melawan arah penusukan .
  • Tusuk vena dengan bevel jarum menghadap keatas (dengan sudut 30-40 derajat), tusukan searah aliran vena ½ kateter (terlihat darah akan mengisi tabung kateter vena).
  • Tangan kanan menahan/memegang jarum infus, tangan kiri mendorong kateter sampai kateter masuk semua.
  • Cabut jarum infus dan hubungkan kateter dengan infus set yang sudah dipersiapkan.
  • Lepaskan torniquet
  • Alirkan cairan infus, cek lancar/tidak, adakah tanda-tanda bengkak
  • Fiksasi, atur tetesan sesuai instruksi dan atur tinggi botol infus ± 85 cm dari jantung pasien.
  • Beri label, rapihkan alat,

 Dokumentasi dan Evaluasi
  • Tanggal dan waktu penggantian selang infus, tuliskan semua selang tambahan
  • Tanggal, waktu dan isi cairan infus
  • Kecepatan aliran infus, termasuk perubahan kecepatan berikutnya
  • Peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur aliran
  • Pengkajian tempat penusukan infus secara teratur
  • Komplikasi dan tindakan yang dilakukan untuk mem-perbaiki masalah
  • Waktu saat terapi infus dihentikan dan apakah kateter utuh saat dilepas
  • Observasi kondisi kateter 2 kali tiap shift (untuk dewasa) dan setiap jam untuk anak-anak

Read More..

10 February 2011

CPR / BLS (NEW GUIDELINE AHA 2010)

CPR / BLS (NEW GUIDELINE AHA 2010)







CPR/BLS

American Heart Association (AHA) baru-baru ini telah mempublikasikan pedoman cardio pulmonary resuscitation dan perawatan darurat kardiovaskular 2010. Se[erti kita ketahui, para ilmuan dan praktisi kesehatan terus mengeavaluasi CPR atau yang lebih kita kenal dengan RJP ini dan mempublikasikannya setiap 5 tahun.

Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkah-langkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini unutk mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi untuk mendukung intervensi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan.
Rekomendasi di 2010 Pedoman mengkonfirmassi keamanan dan efektifitas dari banyak pendekatan, mengakui ketidakefektifan orang lain fan memperkenalkan perawatan baru berbasis evaluasi bukti intensif dan konsesnsus para ahli. Kehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bahwa pedomansebelumnya tidak aman atau tidak efektif.
Setelah mengevaluasi berbagai penelitian yang telah dipublikasi selama lima tahun terakhir AHA mengeluarkan Panduan Resusitasi Jantung Paru (RJP) 2010. Faokus utama RJP 2010 ini adalah kualitas kompresi dada. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Apnduan RJP 2005 dengan RJP 2010.

1. Bukan ABC lagi tapi CAB

Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC : airway, breathing dan chest compressions, yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi dada. Saat ini kompresi dada didahulukan, baru setelah itu kita bisa fokus pada airway dan breathing. Pengecualian satu-satunya adalah hanya untuk bayi baru lahir. Namun untuk RJP bayi, RJP anak, atau RJP dewasa, harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir memberikan bantuan jalan nafas.

2. Tidak ada lagi look, listen dan feel

Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah dengan bertindak, bukan menilai. Telepon ambulans segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik. Percayalah pada nyali anda, jika anda mencoba menilai korban bernafas atau tidak dengan mendekatkan pipi anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafaas dan tindakan look feel listen ini hanya akna menghabiskan waktu.

3. Kompresi dada lebih dalam lagi

Seberapa dalam anda harus menekan dada telah berubah pada RJP 2010 ini. Sebelumnya adalah 1 ½ sampai 2 inchi (4-5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk menekann setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada.

4. Kompresi dada lebih cepat lagi

AHA mengganti redaksi kalimat disini. Sebelumnya tertulis: tekanan dada sekitar 100 kompresi per menit. Sekarang AHA merekomndasikan kita untuk menekan dada minimal 100 kompresi per menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik.

5. Hands only CPR

Ada perbedaan teknik dari yang tahun 2005, namun AHA mendorong RJP seperti ini pada 2008. AHA masih menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan besarnya adalah: apa yang harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan mereka dan korban yang bukan dewasa/ AHA memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini namun ada saran sederhana disini: berikan hands only CPR karena berbuat sesuatu lebih baik daripda tidak berbuat sama sekali.

6. Kenali henti jantung mendadak

RJP adalah satu-satunya tata laksana untuk henti jantung mendadak dan AHA meminta kita waspada dan melakukan RJP saat itu terjadi.

7. Jangan berhenti menekan

Setiap penghentian menekan dada berarti menghentikan darah ke otak yang mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan beberapa kompresi dada untuk mengalirkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk terus menekan selama kita bisa. Terus tekan hingga alat defibrilator otomatis datang dan siap untuk menilai keadaan jantung. Jika sudah tiba waktunya untuk pernafasan dari mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali pada menekan dada.
Tanggal 18 obtober 2010 lalu AHA (American Hearth Association) mengumumkan perubahan prosedur CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau dalam bahasa Indonesia disebut RJP (Resusitasi Jantung Paru) yang berbeda dari prosedur sebelumnya yang sudah dipakai dalam 40 tahun terakhir. Perubahan tersebut ada dalam sistematikanya, yaitu sebelumnya menggunakan A-B-C (Airway-Breathing-Circulation) sekarang menjadi C-A-B (Circulation – Airway – Breathing).  Namun perubahan yang ditetapkan AHA tersebut hanya berlaku pada orang dewasa, anak, dan bayi. Perubahan tersebut tidak berlaku pada neonatus.
Perubahan tersebut menurut AHA adalah mendahulukan pemberian kompresi dada dari pada membuka jalan napas dan memberikan napas buatan pada penderita henti jantung. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa teknik kompresi dada lebih diperlukan untuk mensirkulasikan sesegera mungkin oksigen keseluruh tubuh terutama organ-organ vital seperti otak, paru, jantung dan lain-lain.
Menurut penelitian AHA, beberapa menit setelah penderita mengalami henti jantung masih terdapat oksigen pada paru-paru dan sirkulai darah. Oleh karena itu memulai kompresi dada lebih dahulu diharapkan akan memompa darah yang mengandung oksigen ke otak dan jantung sesegera mungkin. Kompresi dada dilakukan pada tahap awal selama 30 detik sebelum melakukan pembukaan jalan napas (Airway) dan pemberian napar buatan (bretahing) seperti prosedur yang lama.
AHA selalu mengadakan review “guidelines” CPR setiap 5 tahun sekali. Perubahan dan review terakhir dilakukan pada tahun 2005 dimana terjadi perubahan perbandingan kompresi dari 15 : 2 menjadi 30 : 2.
Dengan perubahan ini AHA merekomendasikan agar segera mensosialisasikan perubahan ini kepada petugas medis, instruktur pelatihan, petugas p3k dan masayarakat umum.
Didalamnya terdapat materi yang berguna terutama bagi sejawat di emergency unit seperti Neonatal Resuscitation, Pediatric BLS dan ALS, Adults BLS dan ALS, CPR dan First Aid.



Sumber diambil dari :
American Heart Association 2010 Pedoman untuk Cardiopulmonary Resuscitation


Read More..

12 May 2009

PERAWATAN GAWAT DARURAT

PERAWATAN GAWAT DARURAT


Di Indonesia ada sikap seakan-akan pasrah dalam menghadapi masalah korban Gawat Darurat. Kalau ada orang meninggal/cacat kita cenderung menganggapnya sebagai nasib atau sudah merupakan kehendak Tuhan.
Sebenarnya angka kejadian, kematian dan kecacatan dapat di cegah dan di turunkan bila kita memahami cara- cara penanggulangan Kegawat Daruratan.


Mungkin sebelumnya ada yang belum paham tentang KEGAWATDARURATAN
Penderita gawat darurat yaitu penderita yang memerlukan pertolongan segera dan bila tidak mendapat pertolongan segera dapat mengancam jiwanya atau menimbulkan cacat permanent.
Penderita tidak gawat dan darurat yaitu penderita yang tidak terancam jiwanya tetapi bila tidak mendapat pertolongan segera akan menimbulkan kecacatan atau kondisi yang parah.
Penderita gawat dan tidak darurat adalah penderita yang terancam jiwanya dan tidak memerlukan pertolongan segera.
Penderita tidak gawat dan tidak darurat yaitu penderita yang tidak terancam jiwanya dan tidak mendapat pertolongan segera.

Penanggulangan Penderita Gawat Darurat ( PPGD ) yaitu upaya untuk mengatasi keadaan gawat darurat agar pasien tidak meninggal, memburuk keadaannya atau mencegah / mengurangi kecacatan.


Prinsip umum penanganan penderita gawat darurat adalah penilaian keadaan penderita yang cepat dan penanganan yang tepat, disini harus selalu diingat bahwa :
  • Kematian oleh karena sumbatan jalan nafas akan lebih cepat dari pada ketidakmampuan bernafas.
  • Kematian oleh karena ketidakmampuan bernafas akan lebih cepat daripada oleh karena kehilangan darah.
  • Kematian oleh karena kehilangan darah akan lebih cepat daripada oleh karena penyebab intra cranial.

Untuk dapat MENYELAMATKAN / MEMPERTAHANKAN HIDUP DAN MENCEGAH CACAT penderita maka harus mampu :
  • Cara minta tolong.
  • Cata mengatasi henti jantung dan henti nafas.
  • Cara menghentikan perdarahan.
  • Cara memasang balutan / bidai.
  • Cara transportasi yang baik.

TRIAGE 
Triase adalah proses seleksi penderita dalam penentuan prioritas penanganan dikarenakan terbatasnya tenaga dan sarana/prasarana di Rumah Sakit, biasanya dilakukan pada area pintu suatu instalasi gawat darurat pada triage penderiata dibagi dalam 4 kategori :
1. Penderita gawat dan darurat biasanya ditandai dengan warna merah
2. Penderita tidak gawat tapi darurat biasanya ditandai dengan warna kuning
3. Penderita tidak gawat dan tidak darurat biasanya ditandai dengan warna hijau
4. Penderita meninggal dunia ditandai dengan warna hitam

Ada 2 cara dalam melakukan TRIAGE
  • Dalam melakukan seleksi penderita petugas triage memprioritaskan pada tingkat kegawat daruratan penderita.
  • Dalam melakukan seleksi penderita petugas triage memprioritaskan pada tingkat penderita dapat tertolong.

Pelaksanaan TRIAGE di UGD
1. Pasien langsung dibawa ke ruang resusitasi. apabila terdapat :
  • Henti jantung dan henti nafas mendadak.
  • Adanya shock dan renjatan.
  • Distress pernafasan mendadak.
  • Penurunan kesadaran ( koma ) , CVD , koma diabetikum.
  • Kejang ; epilepsi, febris disertai kejang.

2. Pasien langsung ke ruang tindakan bedah.
a. Mayor condition ( stretcher patient )
  • Luka berat.
  • Perdarahan non traumatic ( gastro intestinal , respiratorik, urogenital )
  • Usaha bunuh diri
  • Akut daerah urogenital
  • Nyeri lengan / kaki ( vascular / neuro )
  • Khusus mata : luka bakar kimia, perlukaan tembus mata, buta mendadak
  • Khusus anak : hiperthermia, hypothermia

b. Minor condition ( walking patient )

  • Perlukaan
  • Cidera pada tangan
  • Musculo skeletal problem ; cidera tulang
  • Trauma kepala ringan
  • Luka bakar ringan
  • Benda asing
  • Pembalutan dan pembidaian
  • Gigitan dan sengatan , kasus akut THT

3. Langsung ke ruang observasi non bedah :
 a. Mayor condition
  • Batuk dan sesak
  • Sesak nafas tanpa sianosis : Asma, brochopneumoni
  • Nyeri dada non traumatic : MCI
  • Aritmia jantung
  • Nyeri hebat kepala dan leher
  • G.E.D ( muntah berak dengan dehidrasi )
  • Masalah neurology non trauma : CVD / CVA, Convulasi

b. Minor Condition
  • Demam tinggi
  • Kolik / nyeri abdomen

4. Pasien langsung keruang tindakan kebidanan dan penyakit kandungan.
  • Perdarahan pre dan post partum
  • Pre eklamsi berat
  • KET
  • Trauma pada alat kelamin wanita yang berat
  • Kehamilan dengan komplikasi : hamil dengan penyulit

PRINSIP PENANGGULANGAN PASIEN GAWAT DARURAT
Kematian penderita gawat darurat akan terjadi dalam waktu singkat ( 4-6 menit ) bila terdapat kerusakan pada sistem susunan saraf pusat, pernafasan, kardiovaskuler dan hipoglikemia. Sedang kegagalan system/organ yang lain dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang lebih lama. Dengan demikian keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat ( PPGD ) dalam mencegah kematian dan cacat ditentukan oleh:
  • Kecepatan ditemukan penderita
  • Kecepatan meminta pertolongan
  • Kecepatan dalam kualitas pertolongan yang diberikan untuk menyelematkannya

SEBAB KEMATIAN
50 % Gawat darurat meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit atau di rumah dan pada pasien trauma :
  • 50 % meninggal pada saat kejadian atau beberapa menit setelah kejadian 35 % meninggal dalam 1- 2 jam setelah trauma / disebabkan oleh :
  • Trauma kepala berat (hematoma subdural atau ekstradural)
  • Trauma torak (hematoma toraks atau lascriasis hati)
  • Fraktur femur atau pelvis dengan perdarahan massif
  • Trauma multiple dengan perdarahan
  • Pencegahan kematian dilakukan pada 1 -2 jam ini dimana tindakan harus agresif. Angka kematian terutama ditentukan pada fase ini
15 % meninggal setelah beberapa hari atau minggu karena :
  • Mati otak
  • Gagal organ bahakan multi organ failure
  • Sepsis

SISTEM PENANGGULANGAN PASIEN GAWAT DARURAT 
Keadaan gawat darurat dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja maka upaya penanggulangan pasien gawat darurat menjadi semakin kompleks . Untuk itu penanganan pasien gawat darurat harus bersifat komprehensif, terintegrasi dan dengan cara pendekatan system.

Komponen system penanggulangan pasien gawat darurat terdiri dari :
1. Komponen Luar Rumah Sakit ( Pra Rumah Sakit )
Pemasyarakat pulmoner dasar ( RJP ) dan P3K perlu diketahui oleh lapisan masyarakat terutama orang awam dan pengetahuan ketrampilan petugas medik paramedic untuk penanggulangan pasien gawat darurat (advance life support) perlu ditingkatkan secara berkala
Pelayanan komunikasi medik untuk penanggulangan pasien gawat darurat, system kominikasi medik yang berfungsi sebagai pusat radio medik dalam melayani penderita rujukan atau untuk membimbing fasilitas kesehatan lain dengan kemampuan rendah
Pelayanan transportasi pasien gawat darurat : transportasi pasien gawat darurat pra RS , hingga saat ini masih dilakukan dengan macam – macam kendaraan. Hal ini sangat mempengaruhi kwallitas penanggulangan pasien gawat. DepKes RI : mengarahkan dengan secara bertahap, di kota besar harus menggunakan ambulance gawat darurat yang memiliki suatu nomor komunikasi.

2. Dalam Rumah Sakit ( Intra Rumah Sakit )
Depkes R.I telah menetapkan bahwa semua Rumah Sakit harus memiliki unit gawat darurat dengan kategorisasi UGD tersebut dikaitkan dengan klasifikasi Rumah Sakit (System rujukan pasien gawat darurat) dan beban kerja Rumah sakit melaui kategorisasi ini setiap RS dapat mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan UGD dalam menanggulangi pasien gawat darurat . DepKes R.I telah merupakan pedoman pelayanan gawat darurat




Read More..
Next home

Popular Posts