19 January 2014

Penanganan Umum Syok

Penanganan Umum Syok

 

Definisi / Pengertian Syok

Syok adalah suatu sindrom klinis akibat kegagalan akut fungsi sirkulasi yang menyebabkan ketidakcukupan perfusi jaringan dan oksigenasi jaringan, dengan akibat gangguan mekanisme homeostasis. Berdasarkan penelitian Moyer dan Mc Clelland tentang fisiologi keadaan syok dan homeostasis, syok adalah keadaan tidak cukupnya pengiriman oksigen ke jaringan. Sirkulasi darah berguna untuk mengantarkan oksigen dan zat-zat lain ke seluruh tubuh serta membuang zat-zat sisa yang sudah tidak diperlukan.


syok 
Syok


Syok merupakan keadaan gawat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.
Syok secara klinis didiagnosa dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut:
1. Hipotensi: tekanan sistole kurang dari 80 mmHg atau MAP (mean arterial pressure / tekanan arterial rata-rata) kurang dari 60 mmHg, atau menurun 30% lebih.
2. Oliguria: produksi urin kurang dari 30 ml/jam.
3. Perfusi perifer yang buruk, misalnya kulit dingin dan berkerut serta pengisian kapiler yang jelek.

Penyebab Syok

Syok dapat disebabkan oleh kegagalan jantung dalam memompa darah (serangan jantung atau gagal jantung), pelebaran pembuluh darah yang abnormal (reaksi alergi, infeksi), dan kehilangan volume darah dalam jumlah besar (perdarahan hebat).

Tahapan Syok

Keadaan syok akan melalui tiga tahapan mulai dari tahap kompensasi (masih dapat ditangani oleh tubuh), dekompensasi (sudah tidak dapat ditangani oleh tubuh), dan ireversibel (tidak dapat pulih).

Tahap kompensasi adalah tahap awal syok saat tubuh masih mampu menjaga fungsi normalnya. Tanda atau gejala yang dapat ditemukan pada tahap awal seperti kulit pucat, peningkatan denyut nadi ringan, tekanan darah normal, gelisah, dan pengisian pembuluh darah  yang lama. Gejala-gejala pada tahap ini sulit untuk dikenali karena biasanya individu yang mengalami syok terlihat normal.

Tahap dekompensasi dimana tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi-fungsinya. Yang terjadi adalah tubuh akan berupaya menjaga organ-organ vital yaitu dengan mengurangi aliran darah ke lengan, tungkai, dan perut dan mengutamakan aliran ke otak, jantung, dan paru. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah rasa haus yang hebat, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, kulit dingin, pucat, serta kesadaran yang mulai terganggu.

Tahap ireversibel dimana kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki. Tahap ini terjadi jika tidak dilakukan pertolongan sesegera mungkin, maka aliran darah akan mengalir sangat lambat sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan denyut jantung. Mekanisme pertahanan tubuh akan mengutamakan aliran darah ke otak dan jantung sehingga aliran ke organ-organ seperti hati dan ginjal menurun. Hal ini yang menjadi penyebab rusaknya hati maupun ginjal. Walaupun dengan pengobatan yang baik sekalipun, kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki.

Jenis  Syok

Syok digolongkan ke dalam beberapa kelompok yaitu :
1.  Syok kardiogenik (berhubungan dengan kelainan jantung)
2.  Syok hipovolemik ( akibat penurunan volume darah)
3.  Syok anafilaktik (akibat reaksi alergi)
4.  Syok septik (berhubungan dengan infeksi)
5.  Syok neurogenik (akibat kerusakan pada sistem saraf).

Penanganan Syok

Sebagai penolong yang berada di tempat kejadian, hal yang pertama-tama dapat dilakukan  apabila melihat ada korban dalam keadaan syok adalah :
  1. Melihat keadaan sekitar apakah berbahaya (danger) , baik untuk penolong maupun yang ditolong (contoh keadaan berbahaya : di tengah kobaran api)
  2. Buka jalan napas korban, dan pertahankan kepatenan jalan nafas (Airway)
  3. Periksa pernafasan korban (Breathing)
  4. Periksa nadi dan Cegah perdarahan yang berlanjut (Circulation)
  5. Peninggian tungkai sekitar 8-12 inchi jika ABC clear
  6. Cegah hipotermi dengan menjaga suhu tubuh pasien tetap hangat (misal dengan selimut)
  7. Lakukan penanganan cedera pasien secara khusus selama menunggu bantuan medis tiba. Periksa kembali pernafasan, denyut jantung suhu tubuh korban (dari hipotermi) setiap 5 menit.

Penyebab Syok

Syok bisa disebabkan oleh:
  • Perdarahan (syok hipovolemik)
  • Dehidrasi (syok hipovolemik)
  • Serangan jantung (syok kardiogenik)
  • Gagal jantung (syok kardiogenik)
  • Infeksi (syok septik)
  • Reaksi alergi (syok anafilaktik)
  • Cedera tulang belakang (syok neurogenik)

Gejala Syok

Gejala yang timbul tergantung kepada penyebab dan jenis syok. Gejalanya bisa berupa:
- gelisah
- bibir dan kuku jari tangan tampak kebiruan
- kulit lembab dan dingin
- pembentukan urine berkurang atau sama sekali tidak terbentuk urine
- pusing
- tekanan darah rendah
- keringat berlebihan, kulit lembab
- denyut nadi yang cepat
- pernafasan dangkal
- tidak sadarkan diri
- lemah.
- nadi cepat dan lemah
- nafas cepat, dangkal, dan tidak teratur
- kulit pucat, dingin, dan lembab
- wajah pucat dan sianosis (bibir membiru)
- pupil mata melebar
- status mental berubah (gelisah, mual, haus, pusing, ketakutan, dan lain-lain)

Informasi Penyebab, Penanganan, Pencegahan masing-masing syok bisa dilihat melalui link berikut.
Read More..

Anatomi Fisiologi Airway Breathing

Anatomi Fisiologi Airway Breathing


Anatomi Dan Fisiologi Airway Dan Breathing. Pengelolaan airway dan breathing berfungsi untuk mempertahankan oksigenasi otak dan bagian tubuh lainnya, merupakan  hal yang penting dalam penanganan penderita , jika tidak maka penderita akan meninggal dengan cepat.
Sistem respirasi memiliki dua fungsi utama, yaitu :
  1. Berfungsi menyediakan oksigen bagi sel darah merah yang kemudian akan membawa oksigen tersebut ke seluruh tubuh. Dalam proses metabolisme aerobik, sel tubuh menggunakan oksigen sebagai bahan bakar dan akan memproduksi karbon dioksida sebagai hasil sampingan.
  2. Pelepasan karbon dioksida dari tubuh merupakan tugas kedua dari sistem respirasi. Ketidakmampuan sistem respiratorik dalam menyediakan oksigen bagi sel atau melepaskan karbondioksida, akan menimbulkan kematian.
Kematian oleh karena masalah airway pada trauma disebabkan oleh :
  • Kegagalan dalam mengenal airway yang tersumbat sebagian atau ketidakmampuan penderita untuk melakukan ventilasi dengan cukup. Gabungan obstruksi jalan nafas dengan ketidak cukupan ventilasi dapat menyebabkan hipoksia sehingga akan mengancam nyawa. Keadaan seperti ini mungkin terlupakan bila ditemukan perlukaan yang nampaknya lebih serius.
  • Adanya kesulitan teknis dalam menjaga jalan nafas dan teknis membantu ventilasi. Intubasi yang salah akan memperburuk ventilasi dan dengan cepat dapat mengakibatkan kematian bila tidak dikenali secara dini.
  • Aspirasi isi gaster.
 
http://alzhippo.blogspot.com/2014/01/anatomi-fisiologi-airway-breathing.html 

Anatomi Sistem Pernafasan


Sistem pernafasan terdiri dari jalan nafas atas, jalan nafas bawah dan paru. Setiap bagian sistem ini memainkan peran yang penting dalam proses pernafasan, yaitu dimana oksigen dapat masuk ke aliran darah dan karbon dioksida dilepaskan.

Jalan Nafas Atas

Jalan nafas atas merupakan suatu saluran terbuka yang memungkinkan udara atmosfer masuk melalui hidung, mulut, dan bronkus hingga ke alveoli. Jalan nafas atas terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, laring, trakea. Udara yang masuk dari rongga hidung akan mengalami proses penghangatan, pelembaban dan penyaringan dari segala kotoran. Setelah rongga hidung dapat dijumpai daerah faring, mulai dari bagian belakang palatum mole sampai ujung bagian atas esofagus.
Faring terdiri atas tiga bagian, yaitu:
  1. Naso faring  (bagian atas) di belakang hidung.
  2. Orofaring (bagian tengah) dapat dilihat saat membuka mulut.
  3. Hipofaring (bagian akhir), sebelum menjadi laring.
Di bawah faring terdapat esofagus dan laring yang merupakan permulaan jalan nafas bawah. Di dalam laring terdapat pita suara dan otot-otot yang dapat membuatnya bekerja, serta terdiri dari tulang rawan yang kuat. Pita suara merupakan suatu lipatan jaringan yang mendekat di garis tengah.
Tepat diatas laring, terdapat struktur yang berbentuk daun yang disebut epiglotis. Epiglotis berfungsi sebagai pintu gerbang yang akan mengantarkan udara yang menuju trakea, sedangkan benda padat dan cair akan dihantarkan menuju esofagus. Dibawah laring, jalan nafas akan menjadi trakea yang terdiri dari cincin-cincin tulang rawan.

Jalan Nafas Bagian Bawah

Terdiri dari bronkus dan percabangannya serta paru-paru. Pada saat inspirasi udara masuk melalui jalan nafas atas menuju jalan nafas bawah sebelum mencapai paru-paru. Trakea terbagi menjadi dua cabang, yaitu bronkus utama kanan dan bronkus utama kiri. Masing-masing bronkus utama terbagi lagi menjadi beberapa bronkus primer dan kemudian terbagi lagi menjadi bronkiolus.

Fisiologi Sistem Pernafasan

Ketika udara atmosfer mencapai alveoli, oksigen akan bergerak dari alveoli melintasi membran alveolar kapiler dan menuju sel darah merah. Sistem sirkulasi kemudian akan membawa oksigen yang telah berikatan dengan sel darah merah menuju jaringan tubuh, dimana oksigen akan digunakan sebagai bahan bakar dalam proses metabolisme.

Pertukaran oksigen dan karbon dioksida pada membran alveolar kapiler dikenal dengan istilah difusi pulmonal. Setelah proses pertukaran gas selesai (kadar karbondioksida yang rendah) akan menuju sisi kiri jantung, dan akan dipompakan ke seluruh sel dalam tubuh.
Saat mencapai jaringan, sel darah merah yang teroksigenasi ini akan melepaskan ikatannya dengan oksigen dan oksigen tersebut digunakan untuk bahan bakar metabolisme. Juga karbondioksida akan masuk sel darah merah. Sel darah merah yang rendah oksigen dan tinggi karbondioksida akan menuju sisi kanan jantung untuk kemudian dipompakan ke paru-paru.
Hal yang sangat penting dalam proses ini adalah bahwa alveoli harus terus menerus mengalami pengisian dengan udara segar yang mengandung oksigen dalam jumlah yang cukup.
Proses pernafasan sendiri ada dua yaitu inspirasi (menghirup) dan ekspirasi (mengeluarkan nafas).
Inspirasi dilakukan oleh dua jenis otot:
  1. Otot interkostal, antara iga-iga. Pernafasan ini dikenal sebagai pernafasan torakal. Otot dipersarafi oleh nervus interkostalis (torakall 1 – 12)
  2. Otot diafragma, bila berkontraksi diafragma akan menurun. Hal ini dikenal sebagai pernafasan abdominal, dan persarafan melalui nerfus frenikus yang berasal dari cervikal 3-4-5.
 
 
inspirasi-ekspirasi
Inspirasi-Ekspirasi


Pusat pernafasan ada di batang otak, yang mendapat rangsangan melalui baro reseptor  yang terdapat di aorta dan arteri karotis. Melalui nervus frenikus dan nervus interkostalis akan menjadi pernafasan abdomino-torakal (pada bayi disebut torako-abdominal).
Dalam keadaan normal volume udara yang kita hirup saat bernafas  dikenal sebagai tidal volume. Bila membutuhkan oksigen lebih banyak maka akan dilakukan penambahan volume pernafasan melalui pemakaian otot-otot pernafasan tambahan.
Jika tidal volume adalah 7 cc/kg Berat Badan, maka pada penderita dengan berat 70 kg, tidal volumenya 500 cc. Dengan frekuensi nafas 14 kali / menit, maka volume permenit 500 × 14 = 7000 cc / menit.
Bila pernafasan lebih dari 40 kali / menit, maka penderita harus dianggap mengalami hipoventilasi (nafas dangkal). Baik frekuensi nafas maupun kedalaman nafas harus dipertimbangkan saat mengevaluasi pernafasan. Kesalahan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa penderita dengan frekuensi nafas yang cepat berarti mengalami hiperventilasi.

Read More..

Triage di Unit Gawat Darurat

Triage di Unit Gawat Darurat

 

Definisi

Sistem Triage: Proses di mana seorang klinisi menilai tingkat urgensi pasien.

Triage: Sistem triage adalah struktur dasar dimana semua pasien yang datang dikategorikan ke dalam kelompok tertentu dengan menggunakan standar skala penilaian urgensi atau struktur.

Re-triage: status klinis adalah merupakan kondisi yang dinamis. Jika terjadi perubahan status klinis yang akan berdampak pada perubahan kategori triage, atau jika didapatkan informasi tambahan tentang kondisi pasien yang akan mempengaruhi urgensi (lihat di bawah), maka triage ulang harus dilakukan. Ketika seorang pasien kembali diprioritaskan, kode triage awal dan kode triage selanjutnya harus didokumentasikan. Alasan untuk melakukan triage ulang juga harus didokumentasikan.

Urgensi: Urgensi ditentukan berdasarkan kondisi klinis pasien dan digunakan untuk menentukan kecepatan intervensi yang diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal. Tingkat urgensi adalah tingkat keparahan atau kompleksitas suatu penyakit atau cedera. Sebagai contoh, pasien mungkin akan diprioritaskan ke peringkat urgensi yang lebih rendah karena mereka dinilai cukup aman bagi mereka untuk menunggu memperoleh pemeriksaan emergensi, walaupun mereka mungkin memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk kondisi mereka atau mempunyai kondisi morbiditas yang signifikan dan resiko kematian.

Sejarah Singkat Triage

Istilah Triage berasal dari bahasa prancis Trier, yang berarti untuk memilih atau memilah. Triage sistem pertama kali digunakan untuk memprioritaskan perawatan medis selama perang Napoleon pada abad ke-18. Setelah perang dilakukan penyempurnaan sistem untuk memindahkan secara cepat korban yang terluka dari medan perang ke tempat perawatan definitive. Sistem triage Mass Casualty Insiden (MCI) juga telah dikembangkan. Prinsip yang mendasari triage MCI adalah mencapai hasil yang terbaik untuk jumlah korban yang banyak dalam kondisi dimana kebutuhan klinis melebihi sumber daya yang tersedia.
Dalam pengobatan sipil, sistem triage telah disempurnakan dan diadaptasi untuk digunakan dalam berbagai situasi. Dalam semua lingkungan pelayanan kesehatan, proses triage ditopang oleh pertimbangan bahwa semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pelayanan medis yang devinitif pasti akan meningkatkan dampak layanana kesehatan bagi pasien.

Standarisasi skala triage berguna dalam mengembangkan strategi untuk mengelola unit gawat darurat. Dalam konteks ini mereka juga dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang perkembangan pelayanan kesehatan, manajemen risiko klinis dan keselamatan pasien.

Tujuan dari Sistem Triage

Tujuan dari sistem triage adalah untuk memastikan bahwa tingkat dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat adalah sesuai dengan kriteria klinis, bukan didasarkan pada kebutuhan organisasi atau administrasi. Standar sistem triage bertujuan untuk mengoptimalkan keselamatan dan efisiensi pelayanan darurat berbasis rumah sakit untuk menjamin kemudahan akses terhadap pelayanan kesehatan diseluruh lapisan masyarakat.
Penggunaan sistem triage memfasilitasi peningkatan standar kualitas di unit gawat darurat, karena memungkinkan untuk dilakukan perbandingan indikator kinerja utama (lama waktu untuk perawatan berdasarkan kategori triage) baik di unit itu sendiri maupun antar unit gawat darurat. Sejak awal 1990-an penggunaan sistem informasi komputerisasi di unit gawat darurat Australia telah memungkinkan melakukan perhitungan waktu penanganan dihubungkan dengan hasil pelayanan kesehatan, termasuk kode triage, keluhan utama, diagnosis dan tujuan pemulangan.

Fungsi Triage

Triage mempunyai fungsi penting dalam pemberian pelayanan di unit gawat darurat, dimana sejumlah orang dengan berbagai kondisi yang sama dapat datang ke UGD pada waktu yang bersamaan. Meskipun sistem triage mungkin berfungsi dengan cara yang sedikit berbeda tergantung sejumlah faktor lokal, namun sistem triage yang efektif memberikan dampak yang penting seperti berikut ini:
  • Sebagai sebuah tempat masuk tunggal untuk semua pasien datang (pasien dengan ambulans dan tanpa ambulans), sehingga semua pasien memperoleh proses penilaian yang sama.
  • Lingkungan fisik yang sesuai untuk melakukan pemeriksaan singkat. Juga diperlukan lingkungan yang memberikan kemudahan untuk pasien menyampaikan kondisi klinis, memperoleh rasa aman dan persyaratan administrasi, serta ketersediaan peralatan pertolongan pertama serta tersedianya fasilitas cuci tangan.
  • Sebuah sistem penerimaan pasien yang terorganisir akan memungkinkan kemudahan aliran informasi kepada pasien dari unit triage sampai keseluruh komponen unit gawat darurat, dari pemeriksaan sampai penanganan pasien.
  • Didapatnya data yang tepat waktu untuk kebutuhan pemberian pelayanan, termasuk sistem untuk memberitahukan kedatangan pasien dengan ambulan dan pelayanan gawat darurat lainnya.

Skala Triage di Unit Gawat Darurat

Secara internasional, sistem triage dengan lima tingkat setelah terbukti menjadi metode yang valid dan dapat diandalkan untuk mengkategorikan pasien yang datang ke UGD untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Skala ini menunjukkan tingkat presisi dan reliabilitas yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem tiga tingkat maupun sistem empat tingkat.
Gambaran dari sistem triage dapat dievaluasi berdasarkan empat kriteria sebagai berikut:
  • Utility: Skala harus relative mudah dipahami dan mudah untuk diterapkan oleh perawat dan dokter UGD.
  • Validitas: skala harus mengukur apa yang dirancang untuk mengukur, yaitu harus mengukur urgensi klinis sebagai lawan dari tingkat keparahan atau kompleksitas penyakit atau beberapa aspek lain dari presentasi atau lingkungan unit gawat darurat.
  • Keandalan: Penerapan skala harus independen dari perawat atau dokter yang melakukan peran, yaitu ia harus konsisten. ‘’Inter-raterreliability adalah istilah yang digunakan untuk ukuran statistic kesepakatan yang dicapai oleh dua atau lebih penilai dengan dengan menggunakan skala yang sama.
  • Keselamatan: keputusan triage harus sesuai dengan criteria klinis yang obyektif dan harus mengoptimalkan waktu untuk intervensi medis. Selain itu, skala triage harus cukup peka untuk mengidentifikasi masalah pasien.
Read More..

Komunikasi Dalam Triage

Komunikasi Dalam Triage


Instalasi Gawat Darurat seringkali merupakan unit dengan aktifitas tinggi dan emosional, dan ini bisa terjadi di triage. Bayangkan sebuah IGD yang sibuk pasien berbaris di depan meja, ambulans membawa banyak pasien pada brancard, keluarga dan anak-anak menangis, anak-anak dan staf yang lain mencari saran dan informasi. Perawat Triage sering berhubungan dengan semua kondisi tersebut, dan harus mampu berkomunikasi secara efektif dengan kerabat, petugas ambulans, tenaga perawat medis dan lainnya, dan staf administrasi dan pengunjung, serta membentuk suatu proses komunikasi fungsional untuk memungkinkan penilaian pasien efektif.
Sebagai klinisi triage, anda harus membuat penilaian berbasis kebutuhan berdasarkan informasi yang diperoleh selama pemeriksaan triage. Komunikasi yang efektif adalah penting untuk memperoleh informasi yang akurat, sehingga dapat membuat penilaian yang akurat pada waktunya. Saat masalah terjadi dalam proses komunikasi kemampuan perawat triage untuk mengumpulkan informasi dapat terganggu. Sangat penting bagi perawat triage untuk menyadari potensi hambatan komunikasi yang efektif dalam lingkungan triage dan untuk meminimalkan dampak tersebut pada pelaksanaan triage.
Jadi apa yang kita lakukan jika komunikasi verbal tidak mungkin, seperti dalam kasus seorang pasien yang tidak sadarkan diri ? Dalam kondisi demikian mempunyai dasar keterampilan dalam pemeriksaan fisik adalah yang terpenting, sebagai cara pengumpulan data yang digunakan untuk mengidentifikasi prediktor fisiologis, dan dengan demikian menentukan tingkat urgensi menjadi metode triage utama. Ingat juga bahwa dalam beberapa kasus komunikasi melalui orang ketiga seperti pengasuh, kerabat atau penterjemah dapat berkontribusi dalam proses penilaian. Dalam kasus seperti itu komunikasi juga mungkin menantang dimana pesan yang dikirim dari orang ketiga adalah interpretasi mereka sendiri, yang dapat beresiko menjadi hambatan dalam komunikasi.
Komunikasi adalah proses mengirim dan menerima pesan antar individu dalam konteks dinamis. Setiap individu membawa tanggung jawab sebagai pengirim maupun penerima pesan. Seluruh proses komunikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor dan stimulus.
Ada beberapa isu penting terkait dengan pasien, perawat dan lingkungan yang dapat berdampak pada kompleksitas dari proses komuniksi. Komunikasi literature umumnya mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi seperti kebiasaan-kebiasaan  eksternal atau kebisingan fisik, internal atau kebisingan psikologis, sumantik atau kebisingan interpretasional. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa pasien mungkin mengalami kesulitan memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pengirim dan penerima komunikasi, karena ‘kebisingan’ yang terjadi dalam triage. Ini berarti bahwa perawat Triage akan sering membawa tanggung jawab untuk mengenali dan mengelola faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari diri mereka maupun pasien.

Faktor-Faktor Yang Berdampak Pada Proses Komunikasi Di Triage

Proses komunikasi yang komplek selalu terjadi dalam berbagai faktor yang mempengaruhi. Semakin Perawat Triage memahami faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi, komunikasi akan lebih baik dan data yang berkualitas dapat dikumpulkan.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan antara lain:
• Lingkungan fisik: adanya hambatan seperti kaca, meja, kurangnya privasi, kebisingan yang mengganggu dan pergerakan orang di area tersebut, semuanya akan berdampak pada proses komunikasi di triage.Hal ini sering memerlukan upaya ekstra yang dilakukan oleh perawat Triage untuk dapat mengatasi hambatan, dan meyakinkan pasien bahwa komunikasi mereka dengan perawat adalah bersifat pribadi, menyeluruh dan rahasia.
• Kendala Waktu: Penilaian triage umumnya harus tidak lebih dari dua sampai lima menit agar terjadi keseimbangan antara kecepatan dan ketelitian .
• Penggunaan Bahasa: Penggunaan jargon, baik itu jargon medis atau ‘bahasa jalanan‘, dapat mengakibatkan terjadi salah tafsir antara dua yang berbicara bahasa yang berbeda
• PerilakuNon-verbal: Bahasa tubuh, ekspresi wajah dan nada suara pada pasien dan perawat selama proses komunikasi merupakan aspek penting dalam komunikasi.
• Keragaman budaya: Ini termasuk perbedaan umur, jenis kelamin, etnis, bahasa, agama, status sosial ekonomi dan pengalaman hidup.
• Sifat masalah kesehatan: Masalah Kesehatan yang sangat sensitif, hal memalukan atau menimbulkan kecemasan akan rnempengaruhi cara informasi dikomunikasikan baik oleh pasien dan Perawat Triage.
• Harapan dan asumsi : individu datang ke triage dengan harapan sesuatu akan terjadi. Harapan ini dipengaruhi oleh persepsi mereka tentang urgensi masalah kesehatan dan pengalaman masa lalu mereka terhadap pelayanan kesehatan, dan kadang-kadang tidak realistis. Keakraban Perawat Triage dengan lingkungan triage dan dengan lingkungan pasien dapat memberikan pengaruh positif dan negatif. Meskipun pengaruh tersebut dapat membantu dalam pengenalan gejala awal, hal itu dapat berpotensi menyebabkan asumsi yang tidak tepat dan bias.
•  Emosi: individu  termasuk pasien dan perawat  bereaksi terhadap stres dan kecemasan dengan cara yang berbeda dan dengan berbagai intensitas. Reaksi ini dapat berdampak pada kemampuan seseorang untuk memberikan informasi yang koheren dan kemampuan mereka untuk menjawab pertanyaan dengan jelas. Kemampuan Perawat Triage untuk tetap tenang dan mencapai komunikasi yang efektif dalam lingkungan ini sangat penting.

Tantangan Yang Dihadapi Dalam Komunikasi

Sering kali, orang datang dengan perilaku yang menghambat komunikasi yang tanpa disadari menyatakan bahwa orang tersebut seorang yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Memahami apa yang mendasari perilaku menentang komunikasi, secara bersama-sama dengan menyadari perilaku yang memicu respons emosional dalam diri mereka, dapat membantu perawat Triage untuk merespon balik perilaku itu sendiri.
Mengembangkan strategi dasar untuk menafsirkan perilaku komunikasi secara cepat dapat membantu dalam meminimalkan dampak perilaku yang menghambat komunikasi pada saat penilaian triage.

START (Simple Triage And Rapid Treatment) / METTAG (Triage Tagging Sistem)

Filosofi

Filosifi yang mendasari penggunaan Triage START (Simple Triage and Rapid Treatment) didasarkan pada nilai-nilai keadilan dan efisiensi dalam pelayanan kesehatan. Sistem triage telah dirancang untuk memberikan penilaian dan intervensi medis yang tepat waktu untuk semua orang yang datang ke IGD. Dampak dari kerangka ini adalah secara prinsip bahwa baik itu secara klinis atau etis adalah tidak wajar untuk membiarkan pasien menunggu lebih lama dari dua jam untuk memperoleh perawatan medis di IGD.

Aplikasi

Penerapan sistem Triage START (Simple Triage and Rapid Treatment) ditopang oleh perumusan keluhan utama, yang diidentifikasi dari riwayat penyakit singkat dari penyakit dan cedera saat ini. Keputusan Triage menggunakan skala yang dibuat berdasarkan observasi penampilan umum, fokus pada riwayat klinis dan data fisiologis. Klinisi yang melakukan peran harus memiliki pengalaman dalam penilaian dan penanganan berbagai penyakit dan cedera. Mereka juga harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan organisasi untuk melakukan peran. Penilaian kesesuaian mereka untuk melakukan peran ini juga harus dinilai secara individu secara konsisten dan mandiri dalam membuat keputusan klinis dalam kondisi yang dibatasi waktu.

Hasil Triage

Evakuasi

START atau Simple Triage and Rapid Treatment mengidentifikasi pasien mana yang memerlukan tindakan secepatnya.
Di lapangan, triage juga melakukan penilaian prioritas untuk evakuasi ke rumah sakit. Pada sistem START, pasien dievakuasi sebagai berikut :
- Pasien meninggal (hitam) ditinggalkan di posisi dimana mereka ditemukan, sebaiknya ditutup. Pada pemantauan START, seseorang dianggap meninggal bila tidak bernapas setelah dilakukan pembersihan jalan napas dan percobaan napas buatan.
- Immediate atau prioritas 1 (merah), dievakuasi dengan menggunakan ambulance dimana mereka memerlukan penanganan medis dalam waktu kurang dari 1 jam. Pasien ini dalam keadaan kritis dan akan meninggal bila tidak ditangani segera.
- Delayed atau prioritas 2 (kuning), evakuasinya dapat ditunda hingga seluruh prioritas 1 sudah dievakuasi. Pasien ini dalam kondisi stabil namun memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
- Minor atau prioritas 3 (hijau), tidak dievakuasi sampai prioritas 1 dan 2 seluruhnya telah dievakuasi. Pasien ini biasanya tidak memerlukan penanganan medis lebih lanjut setidaknya selama beberapa jam. Pasien ini dapat berjalan, dan umumnya hanya memerlukan perawatan luka dan antiseptik. Lanjutkan re-triage untuk mencegah terlewatnya perburukan kondisi.

Triage Sekunder (dalam rumah sakit)

Pada sistem triage START lanjutan, triage sekunder dilakukan oleh paramedis atau perawat terlatih di Instalasi Rawat Darurat rumah sakit selama terjadinya bencana. Pasien dipilah menjadi 4 kelompok :
-  Hitam / expectant : pasien dengan cedera berat yang dapat meninggal karena cederanya, mungkin dalam beberapa jam atau hari selanjutnya. Luka bakar luas, trauma berat, radiasi dosis letal, atau kemungkinan tidak dapat bertahan hidup karena dalam krisis yang mengancam nyawa walaupun diberikan penanganan medis (cardiac arrest, syok septik, cedera kepala berat atau dada). Pasien ini sebaiknya dimasukkan dalam ruangan rawat dengan pemberian analgetik untuk mengurangi penderitaan.
- Merah / immediate : pasien yang memerlukan tindakan bedah segera atau tatalaksana lain untuk menyelamatkan nyawa, dan sebagai prioritas utama untuk tim bedah atau ditransport ke rumah sakit yang lebih lengkap. Pasien ini dapat bertahan hidup bila ditangani sesegera mungkin.
-  Kuning /  observation : kondisi pasien ini stabil sementara waktu namun memerlukan pengawasan dari tenaga medis terlatih dan re-triage berkala serta perawatan rumah saki.
-  Hijau / wait (walking wounded) : pasien ini memerlukan perhatian dokter dalam beberapa jam atau hari kemudian namun tidak darurat, dapat menunggu hingga beberapa jam atau dianjurkan untuk pulang dan kembali ke rumah sakit keesokan harinya (misal pada patah tulang sederhana, luka jaringan lunak multipel).
Penderita yang mengalami kelumpuhan, walaupun tidak mengancam nyawa, dapat menjadi prioritas pada keadaan IRD yang sudah tenang. Selama masa ini juga, kebanyakan trauma amputasi dapat dianggap sebagai “merah” karena tindakan bedah perlu dilakukan dalam beberapa menit walaupun luka amputasi ini tidak mengancam  nyawa.

Waktu Sampai Mendapat Pengobatan

Kriteria waktu yang melekat pada kategori  START menggambarkan waktu maksimum yang ideal dan aman bagi pasien untuk bisa menunggu untuk memperoleh pemeriksaan medis dan pengobatan. Sejauh mana kriteria ini dapat dipenuhi secara rutin dievaluasi berdasarkan standar kinerja yang direkomendasikan secara nasional.

Model Triage di Unit Gawat Darurat

Beberapa model triage yang bisa dijadikan pedoman dalam memilah pasien di unit gawat darurat.
Australasian Triage Scale (ATS), sebelumnya National Triage Scale (NTS)
National Triage Scale (NTS) telah dilaksanakan pada tahun 1993, menjadi sistem triage pertama yang digunakan unit gawat darurat rumah sakit pemerintah di seluruh Australia. Pada akhir 1990-an, NTS mengalami perbaikan dan kemudian berganti nama menjadi Australasia Triage Scale (ATS).
ATS memiliki lima katagori:
  • Immediately life-threatening (dengan segera mengancam nyawa atau kategori 1)
  • Imminently life-threatening (dalam waktu dekat akan mengancam nyawa atau kategori 2)
  • Potentially life-threatening or important time-critical treatment or severe pain (berpotensi mengancam nyawa atau perlu waktu penanganan yang segera atau nyeri berat atau kategori 3)
  • Potentially life-serious or situational urgency or significant complexity (berpotensi menjadi kondisi serius atau situasional urgensi atau tingkat kompleksitas yang signifikan atau kategori 4)
  • Less urgent/kurang mendesak atau kategori 5)

ATS telah disahkan oleh Australasian college Emergency Medicine dan diadopsi dalam indikator kinerja oleh the Australian Council on Healthcare Standards.

Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS)

Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS) secara resmi termasuk dalam kebijakan di seluruh Canada pada tahun 1997.The CTAS telah disahkan oleh Canadian Association of Emergency Physicians and the National Emergency Nurses Affiliation of Canada. Skala ini sangan mirip dengan ATS dalam hal tujuan waktu memperoleh penanganan, dengan pengecualian dari kategori 2, yang adalah <15 adalah="" ats="" dimana="" menit.="" menit="" p="">

Manchester Triage Scale (MTS)

Manchester Triage Scale (MTS) bersama-sama dikembangkan oleh Canadian Association of Emergency Physicians and the National Emergency Nurses Affiliation of Canada. MTS berbeda baik dengan ATS maupun CTAS dalam hal pendekatan berbasis algoritma untuk pengambilan keputusan. MTS menggunakan 52 flow chart yang membutuhkan pembuat keputusan untuk memilih algoritma yang tepat berdasarkan keluhan pasien, dan kemudian mengumpulkan dan menganalisis informasi sesuai dengan kondisi yang mengancam nyawa, rasa sakit, perdarahan, tingkat kesadaran, suhu, dan durasi tanda dan gejala.
MTS membutuhkan dokumentasi standar, dan pendekatan ini diyakini menghemat waktu yang diperlukan untuk dokumentasi. Selain itu, pendekatan ini dianggap sangat bermanfaat bagi perawat pemula karena proses pengambilan keputusan dilakukan dengan parameter yang sudah ditetapkan. Kesulitan penerapan MTS adalah membutuhkan sistem komputerisasi yang canggih.

Emergency Severity Index (ESI)

Emergency Severity Index (ESI) adalah suatu sistem kategorisasi triage yang didasarkan pada ketajaman pengobatan (Berapa lama seorang pasien harus diperiksa?) dan penggunaan sumber daya (Apa sumber daya yang cenderung diperlukan?). ESI telah disempurnakan pada beberapa kesempatan. ESI diketahui dapat diandalkan saat diuji dengan scenario khusus yang ditulis, dan saat ini sedang dipertimbangkan untuk digunakan di seluruh Amerika.

Simple Triage And Rapid Treatment START / Triage Tagging Sistem METTAG

Simple triage mengidentifikasi pasien mana yang memerlukan tindakan secepatnya. Immediate atau prioritas 1 (merah), pasien ini dalam keadaan kritis dan akan meninggal bila tidak ditangani segera. Delayed atau prioritas 2 (kuning), evakuasinya dapat ditunda hingga seluruh prioritas 1 sudah dievakuasi. Pasien ini dalam kondisi stabil namun memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
Minor atau prioritas 3 (hijau), tidak dievakuasi sampai prioritas 1 dan 2 seluruhnya telah dievakuasi. Pasien ini biasanya tidak memerlukan penanganan medis lebih lanjut setidaknya selama beberapa jam. Lanjutkan re-triage untuk mencegah terlewatnya perburukan kondisi. Pasien ini dapat berjalan, dan umumnya hanya memerlukan perawatan luka dan antiseptik. Pasien meninggal (hitam) ditinggalkan di posisi dimana mereka ditemukan, sebaiknya ditutup. Pada pemantauan START, seseorang dianggap meninggal bila tidak bernapas setelah dilakukan pembersihan jalan napas dan percobaan napas buatan.
Read More..
Next Prev home

Popular Posts