18 January 2014

Menerima & Menanggapi Panggilan Emergency


http://alzhippo.blogspot.com/2014/01/menerima-menanggapi-panggilan-emergency.html

Menerima & Menanggapi Panggilan Emergency

Seorang EMD (Emergency Medical Dispathcer/Pengirim Pesan Medis Emergensi) yang berpengalaman akan mencatat seluruh informasi dari penelepon, mananyakan layanan apa yang dibutuhkan. Peran EMD (Pengirim Kabar Medis Emergensi) 

Tugas seorang EMD adalah sebagai berikut : 
  • Menanyakan informasi secara lengkap dari penelepon dan menilai tingkat prioritas panggilan emergensi tersebut. 
  • Memberikan instruksi medis kepada penelepon sebelum ambulans datang dan menyampaikan informasi adanya panggilan emergensi kepada kru ambulans. 
  • Mengirimkan kabar dan melakukan koordinasi petugas pelayanan kesehatan (termasuk ambulans gawat darurat) 
  • Berkoordinasi dengan agen keselamatan masyarakat lainnya. 

Saat menerima panggilan emergensi, seorang EMD harus mampu memperoleh informasi sebanyak mungkin mengenai situasi dan kondisi kejadian untuk membantu menentukan tingkat prioritas panggilan. Pertanyaan yang harus diajukan oleh EMD adalah : 
1. Di mana lokasi tepat pasien? Seorang EMD harus menanyakan nomor rumah atau bangunan. Sangat penting untuk menanyakan nama jalan dengan penunjuk arah mata angin yang jelas (misalnya utara, selatan), persimpangan jalan terdekat, dan lokasi tepat kejadian. Apabila terjadi kecelakaan lalu lintas perlu ditanyakan mengenai arus lalu lintas, dan jalur yang dapat dilewati , kemacetan dll. Jika EMD menemukan bahwa semua jalur menuju lokasi tabrakan terhambat, maka EMD akan memberitahu pengemudi ambulans untuk memilih jalur alternatif. EMD akan berkoordinasi dengan unit ambulance service dan akan menghubungi ambulance yang terdekat dengan lokasi pasien, sehingga ambulance akan cepat sampai lokasi kejadian. 

2. Nomor telepon yang dapat dihubungi untuk melakukan panggilan balik? Minta penelepon untuk tetap menjaga sambungan telepon. Jangan ditutup kecuali atas pemberitahuan EMD. Untuk situasi/kasus yang mengancam jiwa, EMD akan memberikan instruksi medis kepada penelepon sesaat setelah ambulans dikirim. Penelepon atau orang lain yang ada di lokasi kejadian harus mengikuti instruksi ini hingga ambulans datang. Hal penting lain yang perlu diperhatikan oleh penelepon adalah agar tetap terhubung dengan EMD untuk menjelaskan lokasi tepat kejadian seandainya ambulans yang telah dikirim tidak menemukan lokasi yang diinformasikan sebelumnya. 

3. Apa masalahnya? Tanyakan keluhan utama yang dihadapi pasien. Ini akan membantu EMD untuk memutuskan panggilan emergensi mana yang akan ditanggapi (jika panggilan lebih dari satu) dan membantu menentukan tingkat prioritas pasien dalam pengiriman ambulans. 
 
4. Berapa usia pasien? Ada beberapa jenis ambulans yang dirancang khusus untuk penanganan kasus emergensi anak-anak daripada dewasa, sehingga akan lebih dipilih untuk dikirim. Selain itu, usia juga sangat penting untuk membedakan antara bayi, anak-anak, dan dewasa terutama jika EMD memberikan instruksi kepada penelepon untuk melakukan RJP sebelum ambulans datang. 
 
5. Apakah pasien sadar? Pasien yang tidak sadar memiliki tingkat kegawatan/prioritas 
yang lebih tinggi untuk dilakukan pertolongan. 
 
6. Apakah pasien bisa bernafas? Jika pasien sadar dan bisa bernafas, EMD akan mengajukan pertanyaan tambahan mengenai keluhan utama untuk menentukan tingkat tanggap darurat yang tepat, hal ini menentukan apakah jenis panggilan termasuk dalam kategori EMERGENCY atau Non EMERGENCY sehingga menentukan apakah akan dikirim ambulans respon non emergency dengan kecepatan kendaraan normal atau ambulans respon emergency (keadaan darurat, lampu dan sirine dinyalakan). Jika pasien tidak bernafas atau penelepon tidak yakin, EMD akan mengirimkan ambulans tanggap darurat maksimum dan akan memberikan instruksi medis sebelum ambulans datang termasuk instruksi RJP via telepon jika didapatkan denyut nadi pasien tidak teraba. Jika panggilan darurat adalah untuk kecelakaan lalu lintas, serangkaian pertanyaan kunci harus diajukan untuk membantu menentukan prioritas dan besarnya tanggapan. Melalui interogasi yang baik dengan penelepon, EMD bisa saja mengirimkan sekaligus satu atau lebih unit ambulans respon emergency dan beberapa unit ambulans pembantu respon untuk penanganan korban. 
 
7. Berapa banyak dan apa sajakah jenis kendaraan yang terlibat? EMD harus mampu menetukan, berapa banyak kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan dan apakah kecelakaan melibatkan mobil, truk, atau bis. Cedera apapun yang diakibatkan dari tabrakan yang melibatkan sepeda, motor, atau pejalan kaki dengan mobil harus memperoleh prioritas tanggap darurat yang lebih tinggi. Jika EMD menemukan bahwa kecelakaan tersebut melibatkan truk, EMD harus mencoba menentukan kemungkinan apakah kendaraan tersebut membawa bahan muatan yang berbahaya. 
 
8. Berapa banyak kemungkinan korban cedera? Ketika EMD memperoleh informasi dari penelepon bahwa ada lima orang yang cedera, maka EMD akan mengirimkan dua atau tiga ambulans dalam saat yang bersamaan. Waktu dan mungkin nyawa, dapat diselamatkan dengan mengetahui jumlah korban cedera pada kecelakaan/tabrakan. 
 
9. Apakah korban terjebak? Jika korban terjebak, maka dibutuhkan pula pengiriman unit penyelamat.

Read More..

Protap Respon medis PHTLS

 Protap Respon medis PHTLS


A. Protap Operasional Ambulans Gawat Darurat 
     I. Persiapan Ambulans Gawat Darurat 
     II. Menerima dan menanggapi panggilan emergency 
     III. Mengoperasikan Ambulans Gawat Darurat 
     IV. Memindahkan pasien ke Ambulans 
     V. Transportasi pasien ke rumah sakit 
     VI. Memindahkan pasien ke Unit Gawat Darurat 
     VII. Mengakhiri Panggilan 


B. Protap Medis khusus (Basic/Advanced Life Support) 
     I. Initial Assessment dan Triage 
     II. Manajemen Airway Breathing 
         • Chin Lift-Head Tilt/Jaw Thrust 
         • Penggunaan pipa Orofaring 
         • Penggunaan pipa Nasofaring 
         • Penggunaan Suction 
         • Penanganan obstruksi jalan napas (Chooking 
         • Needle krikotiroidotomi 
         • Intubasi Orothrakheal 
         • Terapi Oksigen 
         • Pernapasan bantuan 
    III. Resusitasi Jantung dan Paru 
    IV. Syok Perdarahan 
     V. Memindah dan Mengangkat pasien

Read More..

Transportasi Penderita / Pasien

Transportasi Penderita / Pasien



Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien kerumah sakit. Serangkaian tugas harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih oleh pihak rumah sakit. 

A. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi 
Tindakan di bawah ini harus diperhatikan dalam mempersiapkan pasien yang akan ditransport: 
 

1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. 
Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway), pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. 

2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans. 
Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. 
Kelalaian mengunci alat dengan sempurna pada kedua ujung usungan bisa berakibat buruk saat ambulans bergerak. 

3. Posisikan dan amankan pasien. 
Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Bukan berati bahwa pasien harus ditransport dengan posisi seperti itu. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal, ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. 

4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. 
Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri. 

5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. 
Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal board pendek atau 
papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung.

6. Melonggarkan pakaian yang ketat. 
Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun, jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya, termasuk memperbaiki pakaian pasien. 

7. Periksa perbannya. 
Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. 

8. Periksa bidainya. 
Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada tempatnya. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal, fungsi motorik, dan sensasinya.
 
9. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. 
Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit, biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di ruang pasien- karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya. 

10. Naikkan barang-barang pribadi. 
Jika dompet, koper, tas, atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta, pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. Jika barang pasien telah Anda bawa, pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

11. Tenangkan pasien. 
Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkn ke ambulans. Tidak hanya karena diikat dengan tali pengaman yang kuat atau karena berada dalam ruangan yang sempit, tapi juga karena merasa tiba-tiba dipisahkan dari anggota keluarga dan teman-temannya. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. Ingatan akan kejadian tabrakan, kebingungan, keributan, cedera, rasa nyeri, kehilangan orang tua, perawatan atas cedera yang ada, dan pengumpulan informasi oleh Anda akan menimbulkan kesan pengalaman yang menakutkan bagi pasien anak. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. 
Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan, beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi, maka tahap persiapan, melonggarkan pakaian, memeriksa perban dan bidai, menenangkan pasien, bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit.

Read More..

Protap operasional ambulans

PERSIAPAN AMBULANS GAWAT DARURAT Sebuah ambulans modern yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan canggih sekalipun tidak akan bernilai apa-apa kecuali jika selalu dalam keadaan siap untuk memberikan pelayanan kapanpun dan di manapun terjadi kasus emergensi. Suatu program preventif yang terencana pasti mencakup perbaikan ambulans secara periodik. 

 


A. Pemeriksaan Ambulans (mesin mati) 
Berikut ini adalah langkah-langkah pemeriksaan yang dapat dilakukan ketika ambulans berada di pangkalan: 
  1. Periksa seluruh badan ambulans. Cari kerusakan yang dapat mempengaruhi jalannya pengoperasian yang aman. 
  2. Periksa roda dan ban. Periksa adanya kerusakan atau robeknya pelek roda dan bagian luar ban. Gunakan alat pengecek/meteran tekanan untuk memastikan semua ban mengembang dengan tekanan tepat. 
  3. Periksa spion dan jendela. Cari kaca yang pecah dan longgar dan periksa apakah ada bagian yang hilang. Pastikan spion bersih dan diposisikan dengan tepat sehingga didapatkan lapang pandang maksimum. 
  4. Periksa fungsi setiap pintu dan kunci. 
  5. Periksa bagian-bagian sistem pendingin. Periksa jumlah freon/bahan pendingin. Periksa selang pipa sistem pendingin dari kebocoran atau keretakan. 
  6. Periksa jumlah cairan kendaraan, termasuk minyak mesin dan pelumas rem, air aki, dan pelumas setir. 
  7. Periksa aki. Jika jenisnya aki basah yang bisa diisi ulang, periksa jumlah cairannya. Jika aki tipenya aki kering, nilai keadaannya dengan memeriksa portal indikator. Periksa kekencangan hubungan antar kabel dan tanda-tanda korosi. 
  8. Periksa kebersihan permukaan bagian dalam ambulans termasuk dashboard dan periksa adanya kerusakan. 
  9. Periksa fungsi jendela. Pastikan bahwa permukaan dalam setiap jendela bersih. 
  10. Tes fungsi klakson 
  11. Tes fungsi sirine untuk jarak dengar maksimum 
  12. Periksa sabuk pengman. Pastikan setiap sabuk tidak rusak. Tarik setiap sabuk dari gulungannya untuk memastikan bahwa mekanisme retraktor bekerja dengan baik. 
  13. Posisikan kursi pengemudi senyaman mungkin sehingga bisa mengendalikan setir dan pedal dengan optimal. 
  14. Periksa jumlah bahan bakar. Isi bahan bakar setelah setiap kali panggilan dimanapun kejadiannya. 

B. Pemeriksaan Ambulans (mesin menyala) 
Nyalakan mesin terlebih dahulu untuk memulai pemeriksaan selanjutnya. Keluarkan ambulans dari ruangan penyimpanan jika mesin mengeluarkan asap yang mungkin bisa menjadi masalah. Set rem parkir, pindahkan perseneling ke posisi parkir dan minta rekan Anda mengganjal roda sebelum melakukan tahapan berikut : 
  1. Tes fungsi indikator yang terletak di dashboard untuk melihat apakah lampu indikator dapat menyala dengan baik untuk menunjukkan adanya kemungkinan masalah yang terjadi pada tekanan oli, suhu mesin, atau sistem elektrik ambulan lainnya. 
  2. Periksa meteran yang terletak di dashboard untuk pengoperasian ambulans yang optimal. 
  3. Tes fungsi rem, injak rem kaki, catat apakah fungsi pedal rem sudah tepat atau berlebihan. Periksa tekanan udara rem kaki jika dibutuhkan. 
  4. Tes fungsi rem parkir (rem tangan). Pindahkan perseneling ke posisi mengemudi. Pindahkan kembali perseneling ke posisi parkir segera setelah Anda memastikan bahwa rem parkir berfungsi dengan baik. 
  5. Tes fungsi setir. Putar setir ke berbagai arah. 
  6. Periksa fungsi alat penyapu kaca (wiper) depan dan alat pencucinya (washer). Kaca harus bisa disapu bersih setiap kali alat penyapu digerakkan. 
  7. Tes fungsi lampu peringatan (warning lights) ambulans. Minta rekan Anda berjalan mengitari ambulans dan memeriksa fungsi setiap lampu kilat (flashing light) dan lampu putar (revolving light). 
  8. Tes fungsi lampu ambulans lainnya. Minta rekan Anda berjalan lagi mengitari dan memeriksa ambulans. Pada kesempatan ini periksa lampu depan (sinar jauh dan dekat), nyalakan lampu sinyal/weser (signal light), lampu kilat perempatan (four way flasher), lampu rem (brake light), lampu samping (side light) dan lampu belakang (rear light) untuk penerangan tempat kejadian. 
  9. Periksa fungsi perlengkapan pemanas dan pendingin baik di kompartemen pengemudi maupun kompateman pasien. Lakukan juga pemeriksaan alat isap (suction) on-board pada kesempatan ini jika mesin sedang menyala. 
  10. Periksa cairan perseneling. 
  11. Operasikan perlengkapan komunikasi. Lakukan uji radio portabel dan demikian pula dengan radio terfikrsir serta alat komunikasi radio telepon lain.
C. Pemeriksaan Persediaan dan Perlengkapan Kompartemen Pasien Periksa persediaan dan perlengkapan perawatan serta perlengkapan ”life support”. Pastikan bahwa telah dilakukan pemeriksaan atas setiap peralatan yang harus dibawa dalam ambulans, dengan mencatat setiap temuan pada laporan pemeriksaan. Peralatan tersebut tidak sekedar diidentifikasi, namun harus diperiksa pula kelengkapan, keadaan, dan fungsinya. Beberapa hal yang perlu dilakukan pemeriksaan meliputi: 
  1. Periksa tekanan tabung oksigen. 
  2. Pompa bidai udara dan periksa apakah ada kebocoran. 
  3. Pastikan semua perlengkapan oksigen dan ventilasi berfungsi dengan baik. 
  4. Periksa juga apakah peralatan penyelamatan berdebu dan berkarat.
  5. Nyalakan semua peralatan bertenaga aki untuk memastikan bahwa setrum aki berfungsi dengan baik.
  6. Untuk perlengkapan khusus, seperti defibrilator eksterna otomatis (AED) membutuhkan pemeriksaan tambahan. 
  7. lengkapilah laporan pemeriksaan Anda. Perbaiki segala kekurangan. Ganti barang- barang yang hilang. Pastikan pengawas Anda mengetahui adanya kekurangan yang tidak bisa Anda perbaiki langsung. 
  8. Di akhir pemeriksaan, bersihkan unit ambulans untuk mengendalikan kemungkinan adanya infeksi dan untuk memperbaiki tampilan. Menjaga penampilan ambulans juga akan menambah kesan positif Ambulans Anda di mata masyarakat. Mereka yang bangga pada pekerjaan ini, akan menunjukkan rasa bangganya dengan menjaga penampilan ambulansnya

Read More..
Next Prev home

Popular Posts